Postingan

Sejarah Pura Dangin Carik di Tejakula.

Sejarah Pura Dangin Carik Di Desa Tejakula.   Pura Dangin Carik berdiri kokoh di wilayah Desa Tejakula, Kecamatan Tejakula, Kabupaten Buleleng—kawasan yang sejak masa Dinasti Warmadewa sekitar abad ke-10 Masehi dikenal dengan nama awal “Hiliran” atau “Paminggir” dalam prasasti kuno. Hingga saat ini, belum ditemukan catatan tertulis yang secara spesifik mencantumkan tahun pendiriannya; keberadaannya terjaga utuh melalui tuturan para sesepuh dan praktik adat yang dijalankan warga secara turun-temurun. Nama “Dangin Carik” sendiri terbentuk dari dua kata bahasa Bali: Dangin bermakna arah timur, sedangkan Carik merujuk pada sebutan wilayah atau banjar setempat, sehingga secara harfiah bermakna “Pura yang berada di sebelah timur kawasan Carik”—sebuah sebutan yang menegaskan letak geografis sekaligus menjadi penanda identitas wilayah yang dijaga bersama, cerminan tata ruang dan keteraturan spiritual masyarakat Tejakula yang menempatkan tempat suci pada posisi yang disepakati bersama. ...

Pura Sekar Desa Tejakula, Simbol Kerukunan Lintas Keyakinan.

Pura Sekar Desa Tejakula, Simbol Kerukunan Lintas Keyakinan. Pura Sekar terletak di Banjar Dinas Tegal Sumaga, Desa Tejakula, Kecamatan Tejakula, Kabupaten Buleleng, tepat di pesisir pantai utara Bali. Belum ditemukan catatan tahun pendirian yang pasti; sejarahnya hidup dan terjaga utuh melalui tuturan para sesepuh serta tradisi lisan yang diwariskan masyarakat setempat secara turun-temurun. Dahulu di dekat lokasi ini terdapat pelabuhan kuno yang pernah ramai menjadi jalur perdagangan laut Nusantara. Konon suatu ketika ada perahu pengangkut padi dan beras yang bocor, lalu terpaksa merapat ke pantai Tejakula. Awak kapalnya diyakini terdiri dari pemeluk Hindu, Buddha, dan Islam; setelah menurunkan muatan, mereka bersemedi dan kemudian menghilang secara misterius, sehingga masyarakat meyakini mereka bukan manusia biasa melainkan sosok-sosok suci. Padi yang diturunkan tumbuh subur di sekitar tempat itu, sehingga wilayahnya disebut “Sekar” yang bermakna bunga atau keindahan yang mekar, dan ...

Kisah Hubungan Desa Sukawana dan Tejakula.

Saya selalu penasaran dengan hubungan sejarah antara desa Sukawana dan Tejakula. Namun, meskipun sering mendengar cerita-cerita lisan dari berbagai sumber, saya belum menemukan penjelasan yang benar-benar jelas. Hingga suatu hari, sebuah kejadian tak terduga memberikan saya kesempatan untuk menggali lebih dalam tentang hubungan antara kedua desa ini. Saat itu, saya sedang bepergian dari Tejakula menuju Denpasar untuk mencari pekerjaan. Seperti biasa, saya mengendarai motor, menembus jalanan yang berliku di sepanjang jalur Lateng-Kintamani. Namun, tak lama setelah saya melewati desa Lateng, hujan turun dengan sangat lebat, membuat perjalanan saya semakin sulit. Badan saya pun basah kuyup, tubuh menggigil kedinginan, dan yang lebih sialnya, saya juga digonggong anjing oleh beberapa ekor yang tampaknya merasa terganggu oleh kehadiran saya. Meski begitu, saya terus melanjutkan perjalanan. Di tengah hujan yang semakin deras, saya merasa tubuh saya semakin lelah dan kedinginan. Saat itu, s...

Tata Kehidupan dan Warisan Budaya Desa Tejakula

Tata Kehidupan dan Warisan Budaya Desa Tejakula   Di Tejakula, dikenal sistem adat yang disebut Desa Negak atau Desa Linggih, yang beranggotakan sebanyak 22 orang. Susunannya terdiri dari Jero Bendesa, Jero Penyarikan, Jero Bahu, dan diikuti oleh 19 Semeton Desa. Selain itu, struktur kemasyarakatan desa juga melengkapi dengan keberadaan Kelian Sampingan Kaler dan Kelian Sampingan Kelod yang berada di luar jajaran Desa Negak.   Sejarah tempat suci di desa ini pun memiliki kisah yang sangat tua dan istimewa. Menurut penuturan para tetua desa, jauh sebelum konsep Kahyangan Tiga dikenal dan dibangun di Tejakula, masyarakat sudah memuja dan menjaga kesucian Dang Kahyangan yang bernama Pura Dangin Carik, yang kemudian disusul oleh keberadaan Pura Maksan. Karena sejarahnya yang paling tua dan menjadi cikal bakal, Pura Dangin Carik adalah satu-satunya pura di sana yang berhak dan ikut menggelar upacara suci Dangsil dan Ngenemang.   Pembagian kelompok masyarakat atau Krama di Teja...

Sejarah Lengkap Pura Pingit Desa Tejakula.

Sejarah Lengkap Pura Pingit Desa Tejakula.   Pura Pingit terletak di Dusun Sukadarma, Desa Tejakula, Kecamatan Tejakula, Kabupaten Buleleng. Tidak ditemukan catatan pasti mengenai tahun berapa bangunan suci ini pertama kali didirikan, namun asal-usulnya hidup dan terjaga kuat melalui cerita turun-temurun dari para sesepuh desa, serta makna namanya yang menyimpan nilai kesucian yang mendalam. Kata “Pingit” sendiri mengandung tiga arti yang saling berkaitan erat: pertama bermakna keramat, angker, sakral, atau tempat yang dipenuhi kekuatan suci; kedua bermakna tersembunyi atau tempat yang disucikan; dan ketiga merujuk pada mengurung diri, yang mengisyaratkan bahwa pada masa lalu ada orang suci yang pernah bersemadi atau menjalani tapa brata di lokasi tersebut.   Tentang bagaimana pura ini bermula, masyarakat mewariskan sebuah kisah yang sangat dihormati. Konon pada zaman dahulu, sekelompok anak-anak sedang bermain di lokasi itu sambil menarikan tarian-tarian keramat seperti Sang...

Pura Batu Mesalang Desa Tejakula.

Gambar
Pura Batu Mesalang terletak di tengah bebukitan Desa Tejakula, Kecamatan Tejakula, Kabupaten Buleleng. Sama seperti banyak situs kuno lain di kawasan ini, tidak ada catatan pasti mengenai tahun berapa tempat suci ini pertama kali didirikan; keberadaannya tetap hidup dan terjaga dengan baik hingga hari ini melalui cerita para sesepuh serta penghormatan yang terus dijalankan warga secara turun-temurun.   Nama “Batu Mesalang” terbentuk dari dua kata yang menyimpan makna mendalam: kata “Batu” merujuk pada bebatuan alam yang menjadi ciri khas utama lokasi tersebut, sedangkan “Mesalang” menurut pemahaman bahasa Bali kuno dan tradisi masyarakat setempat bermakna “berdiri kokoh”, “terpaut”, atau “tempat yang telah ditetapkan”. Secara keseluruhan nama itu bermakna “Batu yang berdiri kokoh sebagai tempat suci” atau “Batu yang ditetapkan menjadi tempat pemujaan”, yang mengisyaratkan bahwa sejak zaman dahulu kala terdapat batu alam di lokasi itu yang dianggap keramat dan dijadikan sarana uta...