Pura Batu Mesalang Desa Tejakula.
Pura Batu Mesalang terletak di tengah bebukitan Desa Tejakula, Kecamatan Tejakula, Kabupaten Buleleng. Sama seperti banyak situs kuno lain di kawasan ini, tidak ada catatan pasti mengenai tahun berapa tempat suci ini pertama kali didirikan; keberadaannya tetap hidup dan terjaga dengan baik hingga hari ini melalui cerita para sesepuh serta penghormatan yang terus dijalankan warga secara turun-temurun.
Nama “Batu Mesalang” terbentuk dari dua kata yang menyimpan makna mendalam: kata “Batu” merujuk pada bebatuan alam yang menjadi ciri khas utama lokasi tersebut, sedangkan “Mesalang” menurut pemahaman bahasa Bali kuno dan tradisi masyarakat setempat bermakna “berdiri kokoh”, “terpaut”, atau “tempat yang telah ditetapkan”. Secara keseluruhan nama itu bermakna “Batu yang berdiri kokoh sebagai tempat suci” atau “Batu yang ditetapkan menjadi tempat pemujaan”, yang mengisyaratkan bahwa sejak zaman dahulu kala terdapat batu alam di lokasi itu yang dianggap keramat dan dijadikan sarana utama pemujaan.
Berdasarkan cerita yang diwariskan dari generasi ke generasi, dulunya di tempat itu terdapat bebatuan besar yang tersusun secara alami. Konon pada masa lalu sering terlihat pancaran cahaya atau tanda-tanda gaib di sekitarnya, serta terdengar samar suara gamelan pada waktu-waktu tertentu yang terasa suci. Ada pula cerita yang menyebutkan bahwa para leluhur pernah menemukan bekas tempat orang bersemadi atau jejak orang suci di antara bebatuan itu. Karena diyakini sebagai tempat yang ditinggali dan dijaga oleh kekuatan suci, maka warga jaman dulu sepakat untuk menjaga kesucian lokasi tersebut dan mendirikan bangunan Pelinggih sederhana di sekitar batu itu sebagai wujud penghormatan dan rasa syukur.
Dalam konteks sejarah yang lebih luas, kawasan Tejakula sudah dikenal sejak masa kerajaan Bali kuno, tercatat dalam prasasti-prasasti masa Dinasti Warmadewa sekitar abad ke-10 Masehi dengan nama awal “Hiliran” atau “Paminggir”. Keberadaan situs batu seperti ini umumnya berkaitan erat dengan tradisi pemujaan masa pra-Hindu yang kemudian menyatu secara harmonis dengan ajaran Hindu, menjadikannya tempat pemujaan bagi roh leluhur serta kekuatan alam yang menopang kehidupan.
Hingga saat ini, Pura Batu Mesalang menjadi tempat pemujaan yang sangat penting bagi warga sekitar, khususnya untuk memohon keselamatan, keharmonisan keluarga, serta perlindungan dari segala mara bahaya. Ida Bhatara yang dipuja di sana berkaitan erat dengan roh suci dan kekuatan alam yang bersemayam di bebatuan suci tersebut. Warga pun tetap rutin melaksanakan persembahyangan di sana. Meskipun belum banyak tercatat dalam literatur yang beredar secara umum, Pura Batu Mesalang tetap menjadi bagian tak terpisahkan dari kekayaan budaya dan spiritual Tejakula—sebuah bukti nyata bagaimana batu alam yang berdiri kokoh mampu menyimpan kisah dan ikatan persaudaraan yang tak akan pernah terputus oleh waktu.

Komentar