Sejarah dan Makna Labuh Gentuh di Pura Beji Tejakula

Sejarah dan Makna Labuh Gentuh di Pura Beji Tejakula
 
Pura Beji di Desa Tejakula merupakan salah satu pura kuno yang sejak zaman dahulu menjadi pusat penghormatan terhadap sumber air dan kesuburan tanah . Sejarahnya berjalan beriringan dengan keberadaan Desa Hiliran/Paminggir (nama lama Tejakula) yang tercatat dalam prasasti Dinasti Warmadewa abad ke-10 hingga Raja Jayapangus abad ke-12, diperkirakan bentuk pura seperti sekarang mulai terbentuk sejak masa kedatangan Danghyang Nirartha abad ke-15–16. Nama "Beji" sendiri bermakna mata air suci atau tempat penyucian, menjadi saksi bahwa masyarakat Tejakula hidup bergantung pada ketersediaan air yang cukup untuk sawah dan kehidupan sehari-hari .
 
Istilah Labuh Gentuh terdiri dari dua kata: Labuh berarti kedatangan/persembahan, dan Gentuh berarti kesuburan serta kelimpahan hasil bumi. Asal-usul tradisi ini terjalin erat dengan ajaran Sad Kertih (enam unsur kesucian alam) yang tercantum dalam naskah Lontar Dwijendra Tattwa agar masyarakat Bali senantiasa menjaga keseimbangan antara manusia, air, hutan, dan tanah. Dalam Lontar Dwijendra Tatwa, beliau berpesan:"Air adalah nyawa, tanah adalah ibu yang memberi makan, maka berikanlah persembahan tanda terima kasih agar senantiasa tercipta kesuburan. Masyarakat Tejakula melaksanakan upacara Labuh Gentuh di Pura Beji sepuluh tahun sekali sebagai pusat penghormatan kepada kekuatan alam yang menjaga mata air tetap mengalir.
 
Konon pernah terjadi kekeringan panjang di abad ke-18, mata air di sekitar Pura Beji nyaris kering, dan warga mengikuti petunjuk sesepuh desa melaksanakan Labuh Gentuh secara lengkap dan tulus. Tak lama kemudian hujan turun deras dan mata air kembali melimpah, menjadikan tradisi ini semakin sakral dan dijaga ketat hingga kini.
 
Tujuan utama Labuh Gentuh di Pura Beji Tejakula adalah memohon kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa dan kekuatan alam agar musim berjalan teratur, sumber air tidak pernah kering, tanah tetap subur, serta panen melimpah dan terhindar dari bencana alam. Prosesi intinya adalah memohon agar keberkahan kesuburan "turun dan menetap" di bumi Tejakula, sekaligus janji warga untuk menjaga kelestarian mata air, tidak merusak hutan di hulu, dan menggunakan air dengan bijak.
 
Hingga saat ini, meski banyak tradisi mengalami perubahan, Labuh Gentuh di Pura Beji Tejakula tetap dilaksanakan sebagai bukti ketaatan kepada ajaran leluhur dan kesadaran bahwa kemakmuran manusia tidak terlepas dari keharmonisan dengan alam semesta.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pura Dalem Kangin Tejakula

Pura Ratu Gede Sambangan Tejakula.

Pura Sekar Desa Tejakula, Simbol Kerukunan Lintas Keyakinan.