Tata Kehidupan dan Warisan Budaya Desa Tejakula
Tata Kehidupan dan Warisan Budaya Desa Tejakula
Di Tejakula, dikenal sistem adat yang disebut Desa Negak atau Desa Linggih, yang beranggotakan sebanyak 22 orang. Susunannya terdiri dari Jero Bendesa, Jero Penyarikan, Jero Bahu, dan diikuti oleh 19 Semeton Desa. Selain itu, struktur kemasyarakatan desa juga melengkapi dengan keberadaan Kelian Sampingan Kaler dan Kelian Sampingan Kelod yang berada di luar jajaran Desa Negak.
Sejarah tempat suci di desa ini pun memiliki kisah yang sangat tua dan istimewa. Menurut penuturan para tetua desa, jauh sebelum konsep Kahyangan Tiga dikenal dan dibangun di Tejakula, masyarakat sudah memuja dan menjaga kesucian Dang Kahyangan yang bernama Pura Dangin Carik, yang kemudian disusul oleh keberadaan Pura Maksan. Karena sejarahnya yang paling tua dan menjadi cikal bakal, Pura Dangin Carik adalah satu-satunya pura di sana yang berhak dan ikut menggelar upacara suci Dangsil dan Ngenemang.
Pembagian kelompok masyarakat atau Krama di Tejakula pun berkembang seiring berjalannya waktu. Sejak masa awal, sudah ada kelompok Krama Pengastulan, Maksan Kaja, Umbul-Umbul Kaja, dan Cendek. Baru setelah kedatangan Mpu Kuturan ke Bali dan terbentuknya tatanan konsep Kahyangan Tiga, masyarakat Tejakula kemudian membentuk kelompok baru yang dikenal sebagai Maksan Kelod, Umbul-Umbul Kelod, Krama Pamijian, dan Mamas.
Kekayaan budaya Tejakula juga terlihat jelas dari tarian adat andalan mereka, yaitu Tari Baris. Tarian kesatriaan ini terbagi menjadi beberapa jenis yang khas dan mudah dikenali dari ciri serta warna pakaiannya. Ada Tari Baris Jojor yang identik dengan busana berwarna kuning; Tari Baris Blongsong yang memakai pakaian berwarna putih; Tari Baris Bedil yang berbusana warna hitam dan membawa senjata tombak; serta Tari Baris Perisi yang juga berbusana hitam namun dilengkapi dengan tameng atau Tamiang.
Selain para penari Baris, terdapat pula kelompok masyarakat yang disebut Krama Cendek, yang terbagi lagi menjadi dua golongan, yaitu Cendek Putih dan Cendek Luput. Seluruh tatanan, nama, dan tradisi ini menjadi bukti hidup sejarah leluhur yang terjaga dengan sangat rapi hingga hari ini di bumi Tejakula.
Komentar