Pura Sekar Desa Tejakula, Simbol Kerukunan Lintas Keyakinan.
Pura Sekar Desa Tejakula, Simbol Kerukunan Lintas Keyakinan.
Pura Sekar terletak di Banjar Dinas Tegal Sumaga, Desa Tejakula, Kecamatan Tejakula, Kabupaten Buleleng, tepat di pesisir pantai utara Bali. Belum ditemukan catatan tahun pendirian yang pasti; sejarahnya hidup dan terjaga utuh melalui tuturan para sesepuh serta tradisi lisan yang diwariskan masyarakat setempat secara turun-temurun. Dahulu di dekat lokasi ini terdapat pelabuhan kuno yang pernah ramai menjadi jalur perdagangan laut Nusantara. Konon suatu ketika ada perahu pengangkut padi dan beras yang bocor, lalu terpaksa merapat ke pantai Tejakula. Awak kapalnya diyakini terdiri dari pemeluk Hindu, Buddha, dan Islam; setelah menurunkan muatan, mereka bersemedi dan kemudian menghilang secara misterius, sehingga masyarakat meyakini mereka bukan manusia biasa melainkan sosok-sosok suci. Padi yang diturunkan tumbuh subur di sekitar tempat itu, sehingga wilayahnya disebut “Sekar” yang bermakna bunga atau keindahan yang mekar, dan tempat itu pun dikeramatkan lalu dibangun menjadi Pura Sekar.
Pura ini sangat istimewa karena memiliki tiga Pelinggih yang berdampingan dan melambangkan kerukunan lintas keyakinan yang indah. Pelinggih sebelah barat adalah Ida Ratu Gede Serabad, yang dikaitkan dengan Dalem Mekkah; persembahannya tidak menggunakan daging babi. Pelinggih di tengah adalah Ida Ratu Ayu Jong Galuh, yang melambangkan kesuburan dan kemakmuran serta berkaitan erat dengan kehidupan pertanian. Sedangkan pelinggih sebelah timur adalah Ida Ratu Bagus Mas Subandar, yang sering pula disebut Bhatara China, yang berkaitan dengan perdagangan dan rezeki, dengan ciri khas ornamen berwarna merah.
Piodalan atau hari suci pura ini dilaksanakan pada hari Anggara Kliwon atau Anggarkasih dalam Sasih Kapat, Kalima, Kanem, dan Kadasa, yang waktunya selalu sebelum hingga saat Purnama tiba. Ada aturan khusus yang dijaga dalam menghaturkan persembahan: untuk Pelinggih Ratu Gede Serabad tidak menghaturkan daging babi, melainkan menggunakan telur atau hewan lain yang halal, sedangkan persembahan besar lainnya disesuaikan dengan petunjuk tradisi yang diwariskan leluhur. Selain piodalan, masyarakat juga rutin melaksanakan upacara Pasangkepan dan Ngusaba Nangluk Melana. Pada akhirnya, Pura Sekar bukan sekadar tempat suci biasa, melainkan saksi hidup akulturasi budaya sekaligus pesan damai abadi: bahwa perbedaan keyakinan mampu berdiri berdampingan dalam penghormatan yang tulus, persis seperti jejak para leluhur yang dulu datang membawa berkah bagi tanah Tejakula.
Komentar