Sejarah Lengkap Pura Pingit Desa Tejakula.

Sejarah Lengkap Pura Pingit Desa Tejakula.
 
Pura Pingit terletak di Dusun Sukadarma, Desa Tejakula, Kecamatan Tejakula, Kabupaten Buleleng. Tidak ditemukan catatan pasti mengenai tahun berapa bangunan suci ini pertama kali didirikan, namun asal-usulnya hidup dan terjaga kuat melalui cerita turun-temurun dari para sesepuh desa, serta makna namanya yang menyimpan nilai kesucian yang mendalam. Kata “Pingit” sendiri mengandung tiga arti yang saling berkaitan erat: pertama bermakna keramat, angker, sakral, atau tempat yang dipenuhi kekuatan suci; kedua bermakna tersembunyi atau tempat yang disucikan; dan ketiga merujuk pada mengurung diri, yang mengisyaratkan bahwa pada masa lalu ada orang suci yang pernah bersemadi atau menjalani tapa brata di lokasi tersebut.
 
Tentang bagaimana pura ini bermula, masyarakat mewariskan sebuah kisah yang sangat dihormati. Konon pada zaman dahulu, sekelompok anak-anak sedang bermain di lokasi itu sambil menarikan tarian-tarian keramat seperti Sanghyang Bangkung, Sanghyang Dedari, Sanghyang Jaran, hingga Sanghyang Siwa. Tiba-tiba terjadi peristiwa yang luar biasa dan tak terduga: salah satu dari anak-anak itu seketika dikuasai oleh roh suci, bahkan mampu menginjak bara api yang menyala tanpa merasakan sakit sedikitpun dan tanpa luka sedikit pun pada tubuhnya. Masyarakat yang menyaksikan peristiwa itu meyakini sepenuhnya bahwa hal itu adalah tanda nyata adanya kekuatan Tuhan yang bersemayam di tempat tersebut. Atas dasar peristiwa ajaib itulah, warga jaman dulu kemudian sepakat mendirikan bangunan pemujaan di lokasi itu dan memberinya nama Pura Pingit. Ada pula versi lain yang berkembang di kalangan masyarakat, yang menyebutkan bahwa dulunya ada orang suci yang menjalani tapa brata secara menyendiri di tempat itu, sehingga tempat itu perlahan menjadi keramat dan akhirnya dikenal dengan nama tersebut.
 
Dari sisi sejarah dan kepercayaan, Pura Pingit menempati kedudukan yang penting sebagai salah satu tempat pemujaan utama bagi warga serta menjadi bagian tak terpisahkan dari jaringan pura-pura desa Tejakula yang keberadaannya diperkirakan sudah ada sejak masa kerajaan Bali kuno, seperti pada masa Dinasti Warmadewa. Ida Bhatara yang dipuja di pura ini berkaitan erat dengan kekuatan roh suci, perlindungan bagi masyarakat, serta kesucian tempat untuk melaksanakan semedi dan persembahyangan. Pujawali atau hari Piodalan di Pura Pingit jatuh pada hari Buda Kliwon Wuku Pahang menurut perhitungan kalender Bali, yang hingga kini masih digelar dan dijaga kelestariannya oleh seluruh warga setempat dengan penuh rasa hormat dan kesetiaan kepada leluhur.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pura Dalem Kangin Tejakula

Pura Ratu Gede Sambangan Tejakula.

Pura Sekar Desa Tejakula, Simbol Kerukunan Lintas Keyakinan.