Postingan

Piodalan Ngenemang: Tradisi Suci Sasih Kanem di Tejakula

Piodalan Ngenemang: Tradisi Suci Sasih Kanem di Tejakula   Di wilayah Tejakula, Kecamatan Tejakula, Buleleng, terdapat sebutan khas untuk peringatan hari suci Piodalan yang dikenal sebagai Piodalan Ngenemang. Upacara ini dilaksanakan setiap tahun tepat pada saat bulan Purnama Sasih Kanem, atau bulan purnama keenam dalam sistem penanggalan Saka Bali, yang umumnya bertepatan dengan bulan Desember dalam kalender masehi.   Kata Ngenemang sendiri memiliki arti harfiah “yang keenam”, yang merujuk langsung pada urutan bulan ke-enam dalam kalender tradisional Bali. Pelaksanaan upacara ini diatur secara bergilir setiap tahunnya di tempat-tempat suci yang ada di desa, seperti di Pura Puseh, Pura Bale Agung, Pura Dalem, Pura Dangin Carik, hingga Pura Segara.   Rangkaian upacara Piodalan Ngenemang berjalan dengan tertib dan penuh makna mendalam. Piodalan Ngenemang diawali dengan serangkaian kegiatan sakral seperti Mendak Bhatara, Mendak Tirta, dan upacara Melasti. Setiap perayaan Nge...

Keterkaitan Tradisi dan Religiusitas antara Desa Sukawana dan Tejakula

Desa Sukawana (Kintamani-Bangli) dan Tejakula, yang terletak di Bali utara, memiliki hubungan yang erat dari segi tradisi, religiusitas, dan aspek sosiologis. Kedua desa ini saling melengkapi, menciptakan interaksi yang kaya antara komunitasnya. Tradisi di Desa Sukawana dikenal dengan upacara adat yang masih dilestarikan, seperti Ngusaba Dangsil dan Ngusaba Dalem. Dan Piodalan di Sukawana yang memiliki hubungan historis dengan Tejakula adalah di Pura Utus setiap purnama Sasih Ketiga. Di pura puncak Penulisan setiap purnama Sasih Kapat sepuluh tahun sekali dan pura Desa Sukawana setiap purnama Sasih Kelima. Kegiatan ini tidak hanya melibatkan masyarakat lokal tetapi juga mengundang warga Tejakula untuk berpartisipasi, memperkuat rasa persaudaraan.  Setiap sepuluh tahun, warga Sukawana mengundang warga Tejakula untuk ikut berpartisipasi menggelar upacara bertepatan dengan Piodalan di pura puncak Penulisan. Selain itu juga mengundang seniman dan penari dari Tejakula, untuk menampilkan...

Pura Ratu Gede Sambangan Tejakula.

Gambar
Pura Ratu Gede Sambangan merupakan salah satu pura Dangka yang terletak di desa Pakraman Tejakula, tepatnya di Banjar Dinas Tengah, Tejakula, Buleleng. Pura yang berada di kaki bukit ini bukan hanya menjadi tempat persembahyangan yang penting bagi umat Hindu di sekitarnya, tetapi juga menyimpan nilai sejarah dan kebudayaan yang sangat dihormati oleh masyarakat setempat. Pura ini disungsung oleh sekitar 1300 kepala keluarga, sebagian besar dari mereka berasal dari masyarakat Tejakula. Sebagai pusat spiritual yang penting, pura ini memiliki peran besar dalam kehidupan religius masyarakat desa. Salah satu momen yang sangat dinantikan oleh umat adalah Piodalan, yang jatuh pada setiap Anggarkasih Prangbakat, sebuah perayaan penting yang dirayakan dengan penuh khidmat dan makna. Piodalan di Pura Ratu Gede Sambangan selalu menjadi perayaan yang meriah, dimana selama tiga hari penuh, masyarakat melaksanakan berbagai ritual dan upacara. Salah satu bagian yang paling dinanti adalah pertunjukan T...

Pura Agung Atau Pura Puseh Desa Tejakula.

Pura Agung atau pura Puseh desa Tejakula adalah sebuah tempat suci yang memegang peranan penting dalam kehidupan spiritual masyarakat Desa Tejakula, Buleleng Bali. Keberadaannya tidak hanya sebagai tempat persembahyangan, tetapi juga sebagai saksi sejarah panjang dan kepercayaan kuno masyarakat Tejakula.   Dua nama Bhatara (Dewa) yang sangat dihormati di Pura Puseh Tejakula adalah Ratu Gede Mutering Jagat dan Bhatara Kunjara Asana. Ratu Gede Mutering Jagat adalah salah satu nama Bhatara yang sering disebut dalam prasasti-prasasti yang dikeluarkan oleh raja-raja Bali kuno yang berkuasa dari abad VIII hingga XIII. Hal ini menunjukkan bahwa pemujaan terhadap Bhatara ini telah berlangsung sejak lama dan memiliki akar yang kuat dalam tradisi keagamaan Bali.   Sementara itu, Bhatara Kunjara Asana diyakini sebagai Bhatara yang bersthana (bersemayam) di Pura Puseh atau Pura Agung Desa Tejakula pada masa lalu. Keyakinan ini didasarkan pada Prasasti Subaya atau Tejakula yang terdiri dar...

Sejarah Pura Dangin Carik di Tejakula.

Sejarah Pura Dangin Carik Di Desa Tejakula.   Pura Dangin Carik berdiri kokoh di wilayah Desa Tejakula, Kecamatan Tejakula, Kabupaten Buleleng—kawasan yang sejak masa Dinasti Warmadewa sekitar abad ke-10 Masehi dikenal dengan nama awal “Hiliran” atau “Paminggir” dalam prasasti kuno. Hingga saat ini, belum ditemukan catatan tertulis yang secara spesifik mencantumkan tahun pendiriannya; keberadaannya terjaga utuh melalui tuturan para sesepuh dan praktik adat yang dijalankan warga secara turun-temurun. Nama “Dangin Carik” sendiri terbentuk dari dua kata bahasa Bali: Dangin bermakna arah timur, sedangkan Carik merujuk pada sebutan wilayah atau banjar setempat, sehingga secara harfiah bermakna “Pura yang berada di sebelah timur kawasan Carik”—sebuah sebutan yang menegaskan letak geografis sekaligus menjadi penanda identitas wilayah yang dijaga bersama, cerminan tata ruang dan keteraturan spiritual masyarakat Tejakula yang menempatkan tempat suci pada posisi yang disepakati bersama. ...

Pura Sekar Desa Tejakula, Simbol Kerukunan Lintas Keyakinan.

Pura Sekar Desa Tejakula, Simbol Kerukunan Lintas Keyakinan. Pura Sekar terletak di Banjar Dinas Tegal Sumaga, Desa Tejakula, Kecamatan Tejakula, Kabupaten Buleleng, tepat di pesisir pantai utara Bali. Belum ditemukan catatan tahun pendirian yang pasti; sejarahnya hidup dan terjaga utuh melalui tuturan para sesepuh serta tradisi lisan yang diwariskan masyarakat setempat secara turun-temurun. Dahulu di dekat lokasi ini terdapat pelabuhan kuno yang pernah ramai menjadi jalur perdagangan laut Nusantara. Konon suatu ketika ada perahu pengangkut padi dan beras yang bocor, lalu terpaksa merapat ke pantai Tejakula. Awak kapalnya diyakini terdiri dari pemeluk Hindu, Buddha, dan Islam; setelah menurunkan muatan, mereka bersemedi dan kemudian menghilang secara misterius, sehingga masyarakat meyakini mereka bukan manusia biasa melainkan sosok-sosok suci. Padi yang diturunkan tumbuh subur di sekitar tempat itu, sehingga wilayahnya disebut “Sekar” yang bermakna bunga atau keindahan yang mekar, dan ...

Kisah Hubungan Desa Sukawana dan Tejakula.

Saya selalu penasaran dengan hubungan sejarah antara desa Sukawana dan Tejakula. Namun, meskipun sering mendengar cerita-cerita lisan dari berbagai sumber, saya belum menemukan penjelasan yang benar-benar jelas. Hingga suatu hari, sebuah kejadian tak terduga memberikan saya kesempatan untuk menggali lebih dalam tentang hubungan antara kedua desa ini. Saat itu, saya sedang bepergian dari Tejakula menuju Denpasar untuk mencari pekerjaan. Seperti biasa, saya mengendarai motor, menembus jalanan yang berliku di sepanjang jalur Lateng-Kintamani. Namun, tak lama setelah saya melewati desa Lateng, hujan turun dengan sangat lebat, membuat perjalanan saya semakin sulit. Badan saya pun basah kuyup, tubuh menggigil kedinginan, dan yang lebih sialnya, saya juga digonggong anjing oleh beberapa ekor yang tampaknya merasa terganggu oleh kehadiran saya. Meski begitu, saya terus melanjutkan perjalanan. Di tengah hujan yang semakin deras, saya merasa tubuh saya semakin lelah dan kedinginan. Saat itu, s...