Piodalan Khas yang Menjadi Kebanggaan Desa Tejakula

Piodalan Khas yang Menjadi Kebanggaan Desa Tejakula
 
Desa Tejakula memiliki kekayaan tradisi hari suci yang sangat khas dan terjaga, yang dikenal dengan nama-nama yang indah: Piodalan Dangsil, Ngenemang, Ngambeg, dan Labuh Gentuh. Keempat perayaan ini menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan rohani masyarakat setempat, masing-masing memiliki waktu pelaksanaan, makna, dan tata cara yang istimewa.
 
Piodalan Dangsil biasanya  jatuh setiap bulan Purnama Sasih Kalima. Jika Sasih Kalima dijadikan bulan masehi maka akan sama dengan  bulan November. Upacara Dangsil biasanya. digelar di beberapa pura secara bergantian setiap tahunnya yaitu di Pura Puseh, Pura Bale Agung, Pura Dalem, dan Pura Dangin Carik. Kata Dangsil sendiri berasal dari bahasa Kawi, yang merujuk pada sebuah persembahan istimewa yang disusun dari berbagai macam jajanan tradisional seperti Jaje Pekayu, Jaje Gina, dan kue-kue lainnya, yang kemudian ditata dengan sangat indah hingga bentuknya menyerupai Meru atau gunung yang megah. Ritual ini dilaksanakan sebagai wujud bakti tulus kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa, agar senantiasa melimpahkan ketentraman hati dan kemakmuran bagi seluruh penduduk desa. Dalam perayaan Dangsil, suasana desa menjadi sangat sakral dan meriah, diisi dengan pementasan Tari Wayang Wong, Tari Baris Teruna,  Tari Baris Dewasa,  Tari Rejang Dewa, Rejang Renteng, dan berbagai tarian adat lainnya. Di akhir Piodalan dilaksanakan tradisi Meprani, yaitu para tokoh adat dan prajuru desa adat makan bersama sebagai ungkapan rasa syukur yang mendalam kepada Tuhan Yang Maha Esa.
 
Selanjutnya adalah Piodalan Ngenemang, yang dilaksanakan tepat pada hari purnama di Sasih Keenam menurut kalender Bali, atau sekitar bulan Desember. Jika Dangsil digelar di empat pura utama, maka Piodalan Ngenemang lingkupnya lebih luas lagi, digelar secara bergantian setiap tahunnya di Pura Puseh, Pura Bale Agung, Pura Dalem, Pura Dangin Carik, hingga Pura Segara.
 
Ada pula tradisi suci yang sifatnya berkala, yaitu Labuh Gentuh, yang pelaksanaannya cukup istimewa karena digelar hanya satu kali setiap sepuluh tahun sekali, tepatnya di Pura Beji Tejakula. Selain itu, Desa Tejakula memiliki satu tradisi unik yang tidak dimiliki daerah lain, yaitu upacara Ngambeg. Upacara Ngambeg biasanya digelar Setiap selesai pembuatan candi di sebuah pura, maka pura tersebut wajib dibuatkan upacara Ngambeg. Ini adalah sebuah ritual Caru yang menggunakan kepala kerbau sebagai persembahan penyucian, dan seperti halnya upacara besar lainnya, pura yang baru selesai dibangun itu wajib menggelar pementasan Tari Wayang Wong sebagai wujud pemuliaan dan penyempurnaan tempat suci tersebut.
 
 
 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pura Dalem Kangin Tejakula

Pura Ratu Gede Sambangan Tejakula.

Pura Sekar Desa Tejakula, Simbol Kerukunan Lintas Keyakinan.