Pura Sekar Desa Tejakula.
Secara geografis, pura Sekar terletak di Banjar Dinas Tegal Sumaga, desa tejakula kecamatan tejakula kabupaten Buleleng. Pura Sekar terletak dekat garis pantai utara Bali, Pura Sekar menempati lahan seluas sekitar 16 are. Menurut data tahun 2015, pura ini disungsung oleh 462 kepala keluarga, serta menjadi pusat pemujaan bagi seluruh warga Desa Pakraman Tejakula dan krama Subak Carik Sri Dharma Tirta. Posisi ini menjadikan Pura Sekar sebagai jantung spiritual yang menyatukan kepentingan masyarakat, pertanian, dan kelautan dalam satu ikatan suci.
Sejarah berdirinya Pura Sekar tidak tertulis di atas batu, melainkan hidup dalam tutur leluhur dan catatan lontar. Kisahnya bermula dari masa lampau, ketika pesisir Tejakula merupakan pelabuhan besar yang ramai, menjadi jalur perdagangan internasional yang menghubungkan Nusantara dengan bangsa asing. Berbagai pedagang dan awak kapal dari beragam latar belakang budaya dan kepercayaan singgah dan berinteraksi harmonis dengan warga setempat.
Suatu hari, sebuah kapal dagang besar milik seorang Subandar mengalami musibah. Kapal yang sarat muatan beras dan padi tersebut bocor dan terombang-ambing di perairan Tejakula. Para awak kapal yang terdiri dari berbagai agama dan suku bangsa, berusaha menyelamatkan diri dan melakukan semadi serta doa bersama di tepi pantai, memohon keselamatan. Secara misterius, mereka kemudian menghilang, namun muatan padi dan beras dari kapal tersebut berserakan dan masuk ke daratan.
Keajaiban pun terjadi: tanah di sekitar tempat itu menjadi sangat subur, ditumbuhi tanaman hijau yang indah dan berbunga lebat. Masyarakat setempat menyebut wilayah ini sebagai "Bunga Gumi ring Tejakula", yang artinya "Bunga Bumi di Tejakula". Dari istilah inilah lahir nama Pura Sekar — kata "Sekar" sendiri berarti bunga — yang melambangkan kesuburan, keindahan, serta berkah yang terus mekar dan menyebar ke seluruh penjuru desa. Lokasi tempat para awak kapal bersemadi itulah yang kemudian dijadikan tempat suci dan dikembangkan menjadi Pura Sekar hingga sekarang.
Keistimewaan utama Pura Sekar terletak pada pedoman Piodalannya, yang tertuang dalam dua naskah kuno yang sangat dihormati: Lontar Kuno Pura Sekar dan Lontar Dresta Pura Sekar Tejakula. Naskah-naskah ini berfungsi setara dengan prasasti kerajaan, meski tidak tercatat dalam daftar resmi sejarah istana, namun keberadaannya mutlak diakui dan dipegang teguh oleh seluruh krama.
Lontar Kuno Pura Sekar sering disebut sebagai "Prasasti Daun Lontar", karena memuat petunjuk rinci mengenai hari baik pelaksanaan upacara dan jenis persembahan yang wajib dipersembahkan. Di dalamnya tertulis tegas bahwa Piodalan Pura Sekar jatuh pada hari Anggara Kliwon atau Anggarkasih Prangbakat, yang berulang pada sasih Kapat, Kalima, Kanem, hingga Kadasa dalam kalender Saka.
Sementara itu, Lontar Dresta Pura Sekar berisi tata cara pelaksanaan, aturan main, wewaran atau jadwal Piodalan serta rincian sarana upakara. Naskah ini menjadi panduan teknis dan spiritual agar tradisi yang diwariskan leluhur tetap terlaksana murni tanpa perubahan.
Salah satu hal yang paling menakjubkan dari isi lontar ini adalah ragam persembahannya. Sejak zaman dahulu, upacara di Pura Sekar dikenal dengan sarana upakaranya yang sangat lengkap dan unik, meliputi hewan-hewan ternak seperti babi, sapi, dan kambing, hingga hewan khas hutan seperti kijang, landak, dan trenggiling. Setiap jenis persembahan memiliki makna simbolis mendalam, mencerminkan kekayaan alam dan keragaman budaya yang ada di wilayah ini.
Keunikan paling luar biasa dan menjadi bukti nyata kearifan lokal Tejakula adalah susunan pemujaan di dalam Pura Sekar. Di bagian paling suci, terdapat tiga Pelinggih utama yang didedikasikan untuk tiga manifestasi nilai kepercayaan besar yang hidup berdampingan secara damai:
1. Ratu Gede Serabad, menyimbolkan nilai-nilai dan ajaran Islam.
2. Ratu Ayu Jong Galuh, mewakili tradisi dan ajaran Hindu.
3. Ratu Bagus Mas Subandar, merepresentasikan unsur budaya dan kepercayaan Tionghoa atau Buddha.
Selain ketiga pelinggih utama tersebut, terdapat pula Pelinggih Ratu Bagus Mas Petingan, yang melengkapi keberadaan para leluhur penjaga desa.
Kehadiran ketiga unsur kepercayaan ini dalam satu kawasan suci bukanlah kebetulan, melainkan pesan abadi dari para pendiri desa. Ini adalah pernyataan bahwa Tuhan itu Esa, namun dapat didekati dan disembah melalui berbagai jalan dan cara yang berbeda. Pura Sekar menjadi monumen hidup yang membuktikan bahwa ratusan tahun silam, masyarakat Tejakula telah mempraktikkan kerukunan, saling menghargai, dan persatuan di bawah naungan kasih sayang Tuhan Yang Maha Esa.
Bukti keterkaitan budaya Tionghoa sangat terasa kental di sini. Di gudang pura tersimpan peninggalan berupa seperangkat pakaian adat lengkap khas Tiongkok: topi, baju, celana, sepatu, kacamata, hingga perlengkapan rias. Ada pula sepasang kursi goyang dan meja bergaya kuno yang digunakan dalam ritual. Setiap kali upacara digelar, suasana pura dihiasi dengan lilin, kue, buah-buahan, rokok, permen, dan minyak wangi — perlengkapan yang menjadi ciri khas perpaduan budaya ini. Fenomena spiritual yang unik pun sering terjadi, di mana ada pemangku atau warga yang saat dalam keadaan suci atau kesurupan, berbicara fasih menggunakan bahasa Tionghoa, menambah rasa sakral dan kekhasan tempat ini.
Kehidupan spiritual di Pura Sekar berjalan dinamis sepanjang tahun dengan berbagai upacara rutin yang penuh makna. Di antaranya adalah Upacara Pasangkepan yang dilaksanakan setiap hari Anggarkasih, Piodalan Alit pada setiap Anggarkasih Perangbakat, serta Ngusaba Nangluk Merana yang menjadi tanggung jawab khusus krama Subak. Upacara-upacara ini bukan sekadar ibadah, melainkan wujud syukur atas hasil bumi, keselamatan laut, dan penghormatan kepada alam semesta.
Dahulu, Pura Sekar juga menjadi panggung atraksi tradisional Barongsae, sebuah pertunjukan seni yang sarat makna sejarah, mencerminkan kepedulian masyarakat dalam merawat dan menampilkan warisan leluhur mereka.
Menurut tutur penglingsir, ikatan Pura Sekar dengan Subak Carik Sri Dharma Tirta dan Desa Adat Tejakula sangatlah erat dan tak terpisahkan. Hubungan ini terjalin timbal balik: dalam setiap ilikita atau catatan aturan, disebutkan bahwa krama wajib melaporkan dan melibatkan subak serta desa adat dalam setiap kegiatan piodalan atau pembangunan. Pura, subak, dan desa bergerak selaras, menjaga keseimbangan antara pengelolaan air, pertanian, dan kehidupan spiritual.
Pada bulan Mei 2019, Pura Sekar selesai direnovasi besar-besaran. Wajah barunya kini semakin kokoh dan indah, namun tetap mempertahankan nilai-nilai asli dan kemurnian warisan yang ada.
Pura Sekar adalah cermin nyata dari keberagaman budaya Bali yang sesungguhnya. Ia mengajarkan bahwa perbedaan latar belakang, agama, dan budaya bukanlah pemisah, melainkan kekuatan yang menyatukan. Seperti namanya, "Sekar" atau bunga, pura ini terus mekar indah di tengah masyarakat Tejakula, menyebarkan wangi-wangi toleransi, kasih sayang, dan kearifan lokal yang telah teruji waktu.
Sebagai salah satu warisan budaya terpenting di Buleleng, Pura Sekar tidak hanya menjadi tempat memohon berkah, tetapi juga menjadi pengingat abadi bagi kita semua: bahwa kerukunan dan persaudaraan adalah akar dari kebesaran sebuah peradaban.
Komentar
.
Tulisan dalam blog ini sangat bagus sekali, apalagi bila dikembangkan lebih detail. Suksma.