Pura Sekar Di Desa Tejakula.
Pura Sekar Di Desa Tejakula.
Di Desa Tejakula, Kabupaten Buleleng, terdapat sebuah tempat suci yang memiliki keunikan tersendiri baik dari segi sejarah, arsitektur, maupun tradisi pelaksanaan upacara, yaitu Pura Sekar. Berbeda dengan pura-pura lainnya yang sejarahnya seringkali terukir kuat di atas batu prasasti, Pura Sekar memiliki catatan sejarah dan aturannya yang tersimpan rapi dalam naskah-naskah lontar kuno, menjadikannya sebagai "prasasti hidup" yang terus dijaga oleh masyarakat setempat.
Sumber utama yang menjadi pedoman sakral bagi keberadaan pura ini dikenal sebagai Lontar Kuno Pura Sekar, yang sering disebut pula sebagai "Prasasti Daun Lontar Pura Sekar". Disebut demikian karena fungsi lontar ini sangat vital layaknya sebuah prasasti resmi, yang menguraikan dengan jelas petunjuk mengenai hari baik pelaksanaan piodalan serta jenis-jenis sarana upakara yang harus dipersembahkan. Di dalam naskah tersebut tertulis dengan tegas bahwa upacara piodalan di Pura Sekar dilaksanakan pada hari Anggara Kliwon atau Anggarkasih Prangbakat, yang jatuh pada sasih Kapat, Kalima, Kanem, maupun Kadasa. Yang menarik dan menjadi ciri khas utama adalah jenis persembahannya yang sangat beragam, meliputi hewan-hewan seperti babi, sapi, kambing, hingga hewan-hewan khas seperti kijang, landak, dan trenggiling. Hal ini menunjukkan kekayaan ritual dan kedalaman makna yang dimiliki pura ini sejak zaman dahulu kala.
Selain itu, terdapat pula Lontar Dresta Pura Sekar Tejakula. Meskipun keberadaan naskah ini tidak tercatat dalam daftar prasasti kerajaan yang formal, namun keberadaannya sangat diakui dan dihormati oleh seluruh krama. Lontar kuno inilah yang menjadi pedoman utama dalam tata cara upacara. Isinya lebih banyak memuat tentang pengaci-aci atau aturan main, wewaran piodalan atau jadwal dan tata cara, serta rincian banten yang harus disiapkan. Lontar inilah yang menjadi pegangan hidup masyarakat dalam menjaga kelestarian tradisi di Pura Sekar dari generasi ke generasi.
Jika ditelisik lebih dalam mengenai sejarahnya, memang tidak ditemukan batu prasasti resmi yang menceritakan asal-usul berdirinya pura ini. Sejarah Pura Sekar hidup dan berkembang di tengah masyarakat melalui tradisi lisan dan mitos yang sangat kuat, yaitu kisah tentang Kapal Dagang Subandar yang karam di perairan Tejakula. Dari peristiwa inilah kemudian muncul keyakinan dan pembangunan tempat suci sebagai wujud penghormatan dan rasa syukur atas keselamatan serta berkah yang datang dari berbagai penjuru. Oleh karena itu, isi dari lontar-lontar yang ada pun lebih berfokus pada pelestarian ritual dan doa, bukan pada catatan perang atau silsilah raja seperti babad pada umumnya.
Keunikan yang paling menakjubkan dan menjadi bukti tingginya toleransi di tempat ini terlihat dari susunan bangunan dan pemujaannya. Di Pura Sekar, terdapat tiga palinggih utama yang didedikasikan untuk tiga kepercayaan besar yang hidup berdampingan secara damai. Palinggih pertama diperuntukkan bagi Ratu Gede Serabad yang menyimbolkan nilai-nilai Islam. Palinggih kedua adalah Ratu Ayu Jong Galuh yang mewakili tradisi Hindu. Dan yang ketiga adalah Ratu Bagus Mas Subandar yang merepresentasikan unsur Cina atau Buddha.
Kehadiran ketiga manifestasi ini dalam satu area pura yang sama adalah pesan terdalam bahwa Tuhan itu Esa, namun dapat disembah dan dipahami melalui berbagai jalan dan cara yang berbeda. Pura Sekar menjadi bukti nyata bahwa sejak zaman dahulu, masyarakat Tejakula telah mempraktikkan kerukunan, saling menghargai, dan persatuan di bawah naungan kasih sayang Tuhan Yang Maha Esa, sebagaimana yang terus dijaga dan ditulis abadi dalam lembaran-lembaran lontar pusaka mereka.
Komentar